Asia Selatan harus menjadikan masalah air sebagai prioritas utama. Pemerintah regional perlu berhenti menyalahkan kekurangan pasokan air pada kegagalan perjanjian, yang hanya mengalihkan perhatian dari reformasi internal yang sangat dibutuhkan. Musim panas tahun ini hadir lebih awal di Asia Selatan, dengan suhu yang lebih tinggi dari rata-rata pada bulan April dan diprediksi akan naik drastis. Kita juga bersiap menghadapi fenomena ‘super El Niño’, di mana kombinasi gelombang panas yang meningkat dan pola cuaca yang sangat bervariasi diharapkan akan membebani zona perkotaan, sistem pertanian, dan kesehatan masyarakat hingga batasnya.
Selama bulan Juni hingga Agustus, Asia Selatan, terutama sebagian wilayah Pakistan, India, dan Nepal, diperkirakan akan mengalami curah hujan monsun di bawah rata-rata. Negara-negara yang sangat bergantung pada hujan muson untuk hasil pertanian akan menghadapi risiko berbahaya dari kombinasi curah hujan yang rendah dan suhu yang tinggi.
Risiko tersebut sering terjebak dalam retorika politik yang mendorong negara-negara untuk mencari solusi ke luar dan menyalahkan tetangga mereka. Meskipun hal ini mungkin menjadi kemenangan politik domestik yang mudah, krisis air di Asia Selatan adalah masalah internal yang sama pentingnya dengan masalah eksternal. Meskipun solusi kolaboratif mungkin masih menjadi impian yang jauh, negara-negara harus tetap berusaha mencari solusi internal yang dapat diterapkan.
Cuaca ekstrem dan kondisi iklim yang tidak dapat diprediksi kemungkinan besar akan menjadi hal yang biasa, dan negara-negara perlu mempersiapkan diri dengan kebijakan tata kelola air domestik yang lebih baik. India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Afghanistan saling bergantung secara hidrologis. Sungai Indus, Ganga, dan Brahmaputra, serta gletser Himalaya yang memberi mereka pasokan air, merupakan sumber daya air bersama yang menghubungkan masyarakat, sejarah, dan narasi.
Masalah air telah lama menjadi isu kontroversial, seperti yang umum terjadi di banyak bagian dunia di mana dua negara atau lebih dengan hubungan diplomatik yang minim atau perbatasan bermasalah berbagi sumber daya air. Asia Selatan adalah salah satu kawasan yang paling tidak terintegrasi, terutama dalam hal kerjasama air lintas batas. Meskipun ada beberapa perjanjian dan traktat antara negara-negara di kawasan ini, sebagian besar bersifat bilateral, dan banyak yang berada dalam tekanan serta dipengaruhi oleh pertimbangan geopolitik.
